Katolik Adalah Kristen Sejati

Kekeliruan Penafsiran Kata Kristen Katolik - Kristen Dan Katolik
Kelirumologi “Kristen dan Katolik”

DPM - Kelirumologi adalah istilah humoris untuk merujuk kepada beberapa kekeliruan logika dalam pembentukan frasa dan kata yang sudah terlalu sering dipakai pengguna Bahasa Indonesia sehingga dianggap benar.

Contoh kekeliruannya sebagai berikut:

Di Indonesia katolik dengan kristen itu berbeda teman2….Katolik ya katolik…Kristen ya kristen…Kristen itu untuk protestan dan karismatik..dan yg lainny misalny saksi2 yehuwa ataw aliran lain yg percay Yesus…Karena karismatik tidak mau disebut protestan…maka katolik seharusny bukan kristen katolik…Katolik ya katolik…

Berikut ini adalah Tanggapan tentang kekeliruan salahkaprah dari umat katolik yang saya garis bawahi: Di Indonesia katolik dengan kristen itu berbeda teman2….Katolik ya katolik…Kristen ya kristen…Kristen itu untuk protestan dan karismatik..dan yg lainny misalny saksi2 yehuwa ataw aliran lain yg percay Yesus…Karena karismatik tidak mau disebut protestan…maka katolik seharusny bukan kristen katolik…Katolik ya katolik…

I. TANGGAPAN :

Prinsipnya, pada saat ini Vatikan mengakui gerakan ini sebagai gerakan gereja sebagai berikut:

Yang dikatakan Paus tentang Gerakan Karismatik Katolik

Gereja Katolik menerima gerakan Karismatik Katolik sebagai salah satu kegiatan gerejawi (ecclesial movement). Berikut ini adalah sekilas tentang pengakuan para Paus akan gerakan karismatik dalam Gereja Katolik:

Paus Leo XIII mengeluarkan surat ensiklik tentang Roh Kudus, Illud Munus (1897). Pada malam tahun baru menjelang tahun 1901, Paus Leo XIII memohon pencurahan Roh Kudus atas Gereja, dengan menyanyikan lagu “Datanglah Roh Kudus”, dan meminta Gereja untuk mempersiapkan Perayaan Pentakosta dengan melakukan novena.

Paus Yohanes XXIII kemudian mengulangi doa permohonan “Datanglah Roh Kudus” tersebut pada tahun 1959, “Perbaharuilah mukjizat-mukjizat-Mu di masa ini seperti pada masa Pentakosta.” Buah dari doa tersebut adalah Konsili Vatikan II (1962-1965), di mana Roh Kudus memperbaharui Gereja.

Gerakan Karismatik Katolik lahir di bulan Februari 1967, diawali oleh pengalaman pencurahan Roh Kudus oleh para mahasiswa Universitas Duquesne, Amerika Serikat. Sejak saat itu berkembanglah gerakan Karismatik Katolik di berbagai tempat dan negara.

Tahun 1975 di pertemuan 10,000 pemimpin gerakan karismatik Katolik, Paus Paulus VI mengatakan, “Bagaimana mungkin “pembaharuan rohani” ini tidak menjadi kesempatan bagi Gereja dan dunia?” Tanggal 19 Mei di tahun yang sama, Paus berkata, “Tak ada yang lebih diperlukan bagi dunia ini yang makin menjadi sekular, daripada kesaksian akan “pembaharuan rohani” ini, yang dewasa ini kita lihat diakibatkan oleh Roh Kudus di banyak sekali daerah dan lingkungan yang berbeda.” (Pidato dalam Konferensi Internasional ke-2 Gerakan Pembaharuan Karismatik Katolik)
Demikian juga, Paus Yohanes Paulus II mengakui Gerakan Karismatik Katolik, seperti terlihat dalam komentar-komentar-Nya:

“Saya yakin bahwa gerakan ini adalah tanda dari karya-Nya [karya Roh Kudus]. Dunia sangat membutuhkan karya Roh Kudus ini, dan membutuhkan banyak alat untuk karya ini… Melalui karya ini, Roh Kudus datang kepada roh manusia dan dari saat ini, kita mulai hidup lagi untuk menemukan jati diri kita, identitas kita dan kemanusiaan kita secara total. Karena itu saya yakin bahwa gerakan ini merupakan komponen yang sangat penting dalam pembaruan Gereja secara keseluruhan, dalam pembaruan rohani Gereja.” (dalam Audiensi dengan Kardinal Suenens, anggota Dewan Pembaruan Karismatik Internasional, 11 Desember 1979).

“Timbulnya Pembaharuan mengikuti Konsili Vatikan II adalah karunia khusus dari Roh Kudus kepada Gereja di zaman kita.” (Audiensi dengan Dewan Pembaruan Karismatik Katolik Internasional, Italia, 14 Mar 1992)
“Gerakan Karismatik Katolik adalah salah satu dari banyak buah dari Konsili Vatikan II, yang, seperti Pentakosta yang baru, memimpin kepada berkembangnya secara luar biasa di dalam kehidupan Gereja, kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan yang secara khusus peka terhadap gerakan Roh Kudus.

Bagaimana kita tidak berterimakasih kepada buah-buah rohani yang berharga bahwa Pembaruan itu telah menghasilkan di dalam kehidupan Gereja dan di dalam kehidupan begitu banyak orang? Betapa banyak umat awam- laki-laki dan perempuan, orang-orang muda, dewasa dan tua, telah dapat mengalami dalam hidup mereka, kuasa Roh Kudus yang mengagumkan dan karunia-karunia-Nya! Betapa banyak orang telah menemukan kembali iman, sukacita dalam doa, kuasa dan keindahan Sabda Tuhan, menerjemahkan semua ini dalam pelayanan yang murah hati dalam misi Gereja! Betapa banyak hidup telah diubah secara mendalam! Untuk semua ini, hari ini, bersama dengan kamu, saya memuji dan berterima kasih kepada Roh Kudus.

Kamu adalah gerakan gerejawi. Karena itu semua kriteria gerejawi yang saya tuliskan dalamChristifideles Laici (lih. n. 30) harus diwujudkan di dalam kehidupanmu, terutama, kesetiaan kepada Magisterium Gereja, ketaatan sebagai seorang anak kepada para Uskup, dan jiwa melayani terhadap Gereja-gereja lokal dan paroki-paroki….” (Paus Yohanes Paulus II dalam Konferensi Gerakan Karismatik, 4 April 1998, 1-2)
Paus Benediktus XVI kembali mengulangi pengakuan dari Paus pendahulunya dengan mengatakan:

“Seperti yang telah saya tegaskan di banyak kesempatan lainnya, gerakan-gerakan gerejawi dan komunitas-komunitas baru yang berkembang setelah Konsili Vatikan II, merupakan karunia yang unik dari Tuhan dan sumber hidup yang berharga bagi Gereja.Mereka harus diterima dengan kepercayaan dan dihargai karena sumbangan-sumbangan yang be-ragam yang mereka berikan untuk melayani kepentingan bersama dengan cara yang teratur dan berbuah ….” (Paus Benediktus XVI dalam pernyataan kepada the Catholic Fraternity of Charismatic Covenant Communities, 31 Oktober, 2008)

II. TANGGAPAN TENTANG KATA ”KRISTEN DAN PROTESTAN” UNTUK MEMBEDAKAN SEKTE-SEKTE SESAT YANG DI KUTUK OLEH PARA PAUS, DITERJEMAHKAN ‘OLEH ROMO INNO NGUTRA, PR.
KLIK INI UNTUK MEMBACANYA –> {JANGAN MENYEBUT PROTESTAN KRISTEN}

Dari judul artikel ini, tentulah yang akan saya bahas adalah kekeliruan logika dalam pembentukan istilah “Kristen dan Katolik”. Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu”Kristen dan Katolik”di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen.Ada pula yang ketika ditanya,”Anda seorang Kristen?”; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab”Bukan, saya seorang Katolik”. Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat”Kristen dan Katolik”mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik.

Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas. Meskipun begitu, umat Katolik hendaknya berprinsip membiasakan yang benar daripada membenarkan kebiasaan. St. Pacianus dari Barcelona Permasalahan ini ternyata sudah pernah dijelaskan dan dipecahkan oleh seorang Bapa Gereja, St. Pacianus (310-391 M), Uskup Barcelona dari tahun 365-391 M. St. Pacianus menulis sebuah surat-surat (epistula) kepada Sympronianus yang berisi Seruan Pertobatan dan Penjelasan Mengenai Pembaptisan. Pada surat pertamanya, St. Pacianus berbicara mengenai nama “Katolik”.

St. Pacianus berkata: “Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya (my surname). Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai.” 

St. Pacianus melanjutkan: “Dan bila pada akhirnya kita harus memberikan pertanggung-jawaban atas kata “Katolik” dan mengambilnya dari bahasa Yunani oleh interpretasi Latin; [makna] “Katolik” adalah “di seluruh” atau sebagaimana orang terpelajar pikir “ketaatan dalam semuanya” yaitu dalam semua perintah Allah. Yang dari Rasul [Paulus], “apakah kamu taat dalam segala sesuatu”(2 Kor 9:12) dan lagi“sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”(Rom 5:19). Oleh karena itu, barangsiapa adalah Katolik, orang yang sama adalah taat. Barangsiapa adalah taat, orang yang sama adalah seorang Kristen dan dengan demikian Katolik adalah Kristen.

Oleh karena itu, umat kita (our people), ketika dinamai Katolik, dipisahkan oleh sebutan ini dari nama yang sesat (heretical name).” Dari pernyataan St. Pacianus dari Barcelona di atas, kita dapat melihat bahwa seorang Katolik pastilah seorang Kristen. Perlulah umat Katolik pahami bahwa identitas kita adalah Kristen Katolik, yaitu Pengikut Kristus (Kristen) di dalam Gereja Katolik yang kita imani sebagai satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Sebagaimana yang dinyatakan St. Pacianus dari Barcelona di atas, nama “Katolik” digunakan untuk membedakan Gereja Kristus yang benar dari kelompok-kelompok sesat. Memang benar bahwa Gereja Kristus ini pada mulanya belum memiliki nama. Tetapi, kemunculan kelompok-kelompok yang mengajarkan ajaran sesat (di mana mereka juga mengaku Kristen) pada abad-abad pertama akhirnya membuat Gereja yang didirikan Kristus ini bernama Katolik.

Santo Pacianus dari Barcelona menjelaskannya: “Ketika setelah masa Para Rasul, ajaran sesat telah meledak dan menyebar dengan berbagai nama untuk merobek sedikit demi sedikit dan memecahbelah … Bukankah umat Apostolik memerlukan nama mereka sendiri untuk menandai kesatuan orang-orang yang tidak rusak? … Misalkan, hari ini, saya masuk ke sebuah kota yang padat. Ketika saya menemukan Marcionit, Apolinarian, Catafrigian, Novasian dan berbagai macam dari mereka yang menyebut diri mereka Kristen; dengan nama apa saya harus mengenal jemaat saya sendiri bila bukan diberi nama Katolik?” Arti kata “Kristen” adalah “Pengikut Kristus”.

Saat ditanya“Apakah anda seorang Kristen?”, perlu diperhatikan bahwa bila kita umat Katolik menjawab“Saya bukan Kristen, saya seorang Katolik.”maka akan muncul dua hal yang keliru yaitu:

1. Anda menyangkal diri anda seorang pengikut Kristus (Kristen).
2. Anda menunjukkan bahwa Katolik bukanlah pengikut Kristus (Kristen).

Nah, apakah kita umat Katolik mau menyangkal diri kita seorang pengikut Kristus?
Tentu tidak bukan.?

KESIMPULAN:

JiKalau begitu, mari kita biasakan yang benar. Katolik adalah Kristen. Kita adalah Kristen Katolik, pengikut Kristus di dalam Gereja Katolik. Mungkin akan muncul pertanyaan dari non-Katolik,“Kamu tadi bilang kamu seorang Kristen tapi kenapa kamu ikut Misa di Katolik? Kan Kristen itu beda dari Katolik.

”Ya dijelaskan saja kesalahkaprahan tersebut agar orang tersebut mengerti. Jadi, saya tanya kepada anda umat Katolik:“Apakah anda seorang Kristen?” Ya, saya seorang Katolik, Kristen Katolik.

Tambahan:

1. Gereja Katolik sejak dari awal sampai sekarang memang seringkali diserang dengan berbagai ajaran yang salah dan menyimpang (bidaah).
2. Pada masa sekarang ternyata muncul juga Gereja atau persekutuan gerejawi yang menggunakan nama ‘Katolik” tetapi sebenarnya bukan “Katolik”.

Perlu diketahui:

Bahwa, ciri yang pasti dari Katolik adalah persatuan penuh dengan Paus, Uskup Roma. Mereka yang tidak bersatu dengan Paus bukanlah umat Gereja Katolik. 3.In fact, kata”Katolik”ada dalam Kitab Suci. (sumber)
Katolik Adalah Kristen Sejati Katolik Adalah Kristen Sejati Reviewed by jmw on Wednesday, January 27, 2016 Rating: 5

No comments:

Sopan Santun Anda Sangat Kami Hargai

" Aquila non capit muscas "

Powered by Blogger.